Minggu, 31 Agustus 2014 / 5 Djulqa'dah 1435
NEWS TICKER
Ekspedisi Sungai Carang »  Sani: Tanjungpinang Kota Wisata Sejarah »  Kepri Selayang Pandang »  Sup Ikan »  Roti Jala »  Tanjungpinang Diimpikan seperti Melaka »  Sungai Carang 1672 -1784 »  Yacht Rally »  FSC Ikon Baru Tanjungpinang »  Rapat Perdana FSC »  Sejarah Riau dari Sungai Carang »  Pemprov, Pemko, dan RPG Suguhkan Beragam Acara »  Lima Festival Sungai di Asia »  Mie Tarempa »  Festival Sungai Carang, Hiburan Bernilai Sejarah »  Rancangan Kegiatan FSC »  Pangkalanrama di Peta Belanda »  Istana Kota Piring »  Otak-otak »  Menjadikan Penyengat Sebagai Warisan Budaya Dunia » 
 
Home » SEJARAH » Perahu Tradisional Kepulauan Riau-Lingga 1951
SEJARAH

Perahu Tradisional Kepulauan Riau-Lingga 1951

Sabtu, 21 Desember 2013 / 17 Safar 1435 - 1791 Kunjungan
Sebuah sampan Riau berkemudi yang masih digunakan sebagai perahu pengangkut barang di Singkep, tahun 1951. F-KOLEKSI ASWANDI SYAHRI

Sebuah sampan Riau berkemudi yang masih digunakan sebagai perahu pengangkut barang di Singkep, tahun 1951.
F-KOLEKSI ASWANDI SYAHRI

Oleh:  Carl Alexander Gibson Hill

Pengantar : Aswandi SyahriHingga awal tahun 1950-an Kepulauan  Riau masih kaya dengan perahu-perahu tradisional Melayu yang penting   dimata pengamat dan peneliti asing. Catatan dan laporan mereka tentang khazanah perahu tradisional orang Melayu tersebut antara lain mendedahkan kepada kita. Bahwa, tidak sedikit dari khazanah bahari itu kini jarang ditemukan atau punah sama sekali, seperti Sampan Riau dan Sampan Pukai Cina.

Pada tahun 1951, Carl Alexander Gibson Hill, seorang dokter yang punya minat besar terhadap sejarah dan kebudayaan Melayu, yang juga seorang curator zoology di Raffles Museum Singapura, membuat sebuah penyelidikan ilmiah tentang perahu-perahu tradisional (yang ia sebut small boats) Kepulauan Riau-Lingga di Tanjungpinang, Pulau Singkep, dan Pulau Sambu.

Catatan penelitiannya kemudian diberi judul “A Note on the Small Boats of The Rhio and Lingga Archipelagos,” dan dimuat dalam JMBRAS, vol. 24, No. 1 (Februari 1951, hal: 121-132. Halaman jerumat minggu ini menyuguhkan bagian dari catatan umum Gibson Hill, tentang perahu-perahu tradisional Kepulauan Riau-Lingga dan catatan khususnya tetang Sampan Riau, sebuah perahu tradisional yang hanya terdapat pada beberapa daerah di kepulauan Riau.

***

Catatan-catatan berikut ini berkenaan dengan perahu tradisional yang ditemukan di kawasan Kepulauan Riau-Lingga. Sebuah kawasan  yang sebagian besarnya terdiri dari perairan-perairan yang terlindung dan semi terlindung. Bagian terbesar garis pantai yang melingkupinya diapit oleh pohon bakau, dan jarang penduduknya.

Perahu-perahu yang menjadi perhatian disini hanyalah terdiri dari perahu-perahu penangkap ikan yang berukuran menengah (medium size), dan kecil, serta perahu pengangkut barang yang digerakan oleh layar.

Penangkapan ikan terutama sekali dilakukan dengan pancing, jaring arus, perangkap yang mudah dipindah-pindahkan, dan seros, perangkap kecil yang dicacakkan atau diletakkan mengapung, biasanyanya diletakan beberapa jauh dari tepi pantai.
Perahu yang dipergunakan untuk pekerjaan menangkap ikan seperti ini terdiri dari canoe yang dapat memuat  satu, dua atau tiga orang. Perahu ini ringan dan dibuat secara sederhana, dengan sedikit atau tanpa hiasan sama sekali. Kebanyakan diantaranya berukuran antara 10-20 kaki panjang, dan jarang yang melebihi 22-24 kaki.

Tambahan lagi, pada daerah bagian utara dari kelompok kepulauan ini, terutama pada kawasan terbuka di pantai Pulau Batam dan Pulau Bintan, alat tangkap ini digunakan untuk memukat di pantai, dikerjakan dari sebuah perahu yang agak besar, yang disebut Perahu Pukat Cina (Chinese Seine Boat).

Di daerah bagian utara, perahu-perahu kecilnya sangat mirip dengan yang terdapat di perairan Singapura. Bentuk yang paling utama di sekitar Pulau Sambu dan Belakang Padang adalah kolek Johore, dengan sejumlah kecil kolek chiau dan kolek selat, beberapa sampan ( berlayar dengan sebuah layar berbentuk segitiga, bukan segi empat atau dihela), dan tedapat sangat sedikit Sampan Riau maupun Jongkong.

Perahu atau kapal di Tanjungpinang rupanya secara umum sama. Namun terdapat agak sedikit Kolek Johor dan lebih banyak Sampan Riau. Di daerah bagian Selatan, sepanjang daerah Riau, Selat Bulan, dan Selat Dempo ditemukan lambung (badan) kolek Johor yang perlahan-lahan diubah menjadi Sampan Riau versi kecil dan berukuran sedang.

Lebih jauh ke selatan, masih di daerah seputar Pulau Lingga dan Singkep, perahu-perahu tradisionalnya  adalah golek dan jongkong, dan salah satu yang berukuran menengah adalah Sampan Riau. Sedangkan kolek Johor pada hakekatnya tidak dikenal.
Seperti yang telah dikatakan, perahu tradisional dari daerah ini pada dasarnya sederhana dalam jenis dan dalam metode pembuatannya.

Dengan mudah mereka dapat dibagi ke dalam empat kelompok yang meliputi, jongkong yakni perahu tradisional yang dibuat dengan cara mencungkil batang kayu, kolek kecil atau canoe yang ringan. Sampan Riau yang berat, tipis, dan agak besar, serta perahu pukat Cina (Chinese Seine-Boat). Sampan pembawa barang dan sampan kotak hanya digunakan dalam jumlah yang kecil di sekitar Pulau Sambu dan bagian utara Riau.

Sebuah penanda umum dari seluruh perahu tradisional daerah ini adalah hampir sangat umum menggunakan tali di bagian haluan  dan buritan pada semua kategori perahu yang didiskusikan dalam tulisan ini.

Sebuah contoh perahu yang paling kecil secara umum menggunakan seperangkat layar segi tiga, dengan sebuah bingkai yang sangat pendek. Sebuah layar topang (jib) kecil,  mungkin ditambahkan pada perahu yang agak sedikit besar. Pola ini adalah satu bentuk yang normal pada semua ukuran kolek Johor. Namun, pada sejumlah kasus perahu-perahu terbesar dalam kelompok ini mempunyai tiang pendek dua tingkat, setiap satunya  dipasangkan sebuah layar berbentuk segi tiga.

Bentuk seperti ini terutama sekali ditemukan pada perahu-perahu yang dugunakan untuk tujuan mengangkut penumpang dan barang. Sampan Rhio yang paling besar secara umum dilengkapai dengan sebuah pengait hujung layar utama  dan sebuah layar topang (jib) yang berukuran sedang.

Penggunaan tiang layar melintang yang dapat dirubah-rubah secara diagonal (sprit-sails) agak jarang. Kecuali, pada sampan pukat Cina (Chinese Seine-Boat) adalah mungkin pula bahwa popularitas tiang layar yang melintang secara diagonal itu semakin berkurang pula di perairan Singapura, kecuali pada kolek lomba, model Jong, dan kolek chiau. Sementara itu, model layar perahu Melayu dari semenanjung, hampir tidak dikenal di Kepulauan Riau-Lingga.

Dalam semua kasus, penyelesaian pembuatan sebuah perahu  mudah dan sederhana. Tidak terdapat tanda model haluan (bifid bow) dan cadik ganda yang ditemukan pada canno kecil dari Belitung Barat, atau layar “sompot” yang dikatakan terdapat paling kurang pada satu perahu di Pulau Bangka.

Barangkali, afinitas rancang bangun perahu-perahu tradisional di daerah Bangka ada di Jawa. Sedangkan perahu-perahu di daerah Lingga dan daerah di utaranya lebih dekat hubungannya dengan perahu-perahu tradisional di sekitar Selat Singapura.

Sampan Riau
Sampan Riau (The Sampan Rhio) sekarang (tahun 1951) dibangun menggunakan teknik orang Eropa. Meskipun, seperti halnya kolek Johor, pada mulanya ia dibuat dari  sebatang kayu yang dicungkil (a dug-out base). Pada sejumlah tempat, metode tua tersebut masih digunakan hingga kira-kira 15-20 tahun yang lalu, dan beberapa contohnya masih ada.

Umumnya dapat dikatakan bahwa versi terkecil sampan Riau, yang berukuran hingga kira-kira 20-22 panjang, mengganti kolek Johor hampir di sebagian besar  kawasan Riau-Lingga, dengan pengecualian di bagian Utaranya yang masih menggunakan kedua jenis perahu tradisional ini.

Terdapat perbandingan yang manarik, yakni antara sampan Riau saat ini dan kolek Melaka (Malacca Kolek). Pusat pembuatan kolek Melaka adalah di sekitar Kota Malaka (Kampong Pernu hingga ke bagian selatannya, Kampong Pengkalan Balas, serta Kuala Sungei Bahru hingga ke utara), dan di Pantai Selangor sebelah selatan daerah Morib: Kolek Melaka digunakan secara luas oleh  orang-orang Melayu dari bagian utara daerah Batu Pahat (Johor) hingga ke Kampong Sungei Buloh (Selangor), dan selain Jalur, ia merupakan satu-satunya bentuk perahu bukan model Cina yang ditemukan di daerah ini.

Bagaimanapun, ia tidaklah muncul dengan meluas jauh ke selatan melampuai Sungai Batu Pahat, tentu saja tidak dalam jumlah apapun, perahu ini tidak pernah terlihat di kawasan paling selatan dari daerah Johor atau perairan Singapura. Namun demikian profil lambung atau badannya persis sama dengan sampan Riau terkecil. Meski, perahu itu agak ringan dan lebar, dengan bagian depan lebih curam dan bagian tengah perahu itu kurang terbenam dalam air.

Sampan Riau dalam bentuknya yang sekerang, yang berkuran panjang 20 hingga 22 kaki, umumnya hanya digunakan untuk menangkap ikan atau menambang. Bahkan, Sampan Riau yang berukuran besar (hingga 30 kaki panjangnya) masih dibuat, dan digunakan sebagai pembawa cargo atau kapal dagang. Yang disebutkan terakhir ini umumnya mempunyai atap penutup tempat berteduh dekat bagian terlebar di buritan, dan bentuk yang khas pada bagian atas lambungnya.

Sampan Riau dari jenis yang terbesar ini biasanya berlayar  menggunakan layar utama dan sebuah  layar topang atau layar jib, serta dikemudikan dengan sebuah daun kemudi dan tali. Perahu seperti ini hilir mudik di seluruh daerah tersebut, namun kebanyakan terlihat ke arah Selatan.

Dulu, perahu-perahu yang rupanya mendekati sampan Riau modern lebih beragam bentuknya di peraiaran Singapura dibandingkan dengan saat ini. Pada satu periode, sampan Riau dan jongkong mungkin merupakan mayoritas terbesar dari perahu-perahu kecil yang dijumpai di sini. Di antara komunitas orang Melayu dan orang laut.

Contoh perahu yang terbesar kemudian digunakan sebagai perahu yang sekaligus berfungsi sebagai rumah. Namun praktek seperti ini sekarang telah dihentikan sama sekali. Sampan Riau masih terlihat di sekitar Singapura, dan kebanyakannya merupakan contoh yang berukuran menengah, dan sebagian besarnya digunakan untuk sarana angkutan.

Sampan ini biasanya dibedakan dalam dua kategori, sisa-sisa kepopulerannya di masa lalu ( sederhana dalam bentuk dan sentuhan akhir dibanding perahu-perahu yang lebih modern)  yang kebanyakan ditemukan disekitar Pulau Brani, serta sebuah model yang baru-baru ini dibawa dari Batam, Bintan, dan kawasan lain di Kepulauan Riau-Lingga.

“Sampan Riau”, yang digunakan sebagai judul bagian ini, adalah nama yang diberikan oleh nelayan-nelayan Singapura. Ini adalah contoh jenis sampan Riau modern yang biasanya terlihat jauh hingga ke daerah bagian utara Kepulauan Riau-Lingga. ***

 

Related Post